Manusia selalu dianjurkan untuk memiliki sifat tawadhu saat menjalani kehidupan sehari-hari-Nya. Tawadhu merupakan sikap batin yang harus senantiasa mewujudkan secara proporsional dan wajar.
Agam Islam mengajarkan untuk memiliki perilaku tawadhu atau rendah hati merupakan salah satu cerminan seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’alla.
Karena dalam agama Islam terdapat karakter atau kondisi lahir dan batin manusia yang dikenal dengan istilah akhlak.
Dalam islam akhlak terbagi menjadi dua yakni akhlak baik dan buruk, akhlak baik atau (akhlaq mahmudah) meliputi segala perbuatan baik seperti sabar, syukur, ikhlas, rendah hati (tawadhu’), jujur, dermawan, pemaaf, dan sebagainya.
Sedangkan akhlak buruk (akhlaq madzmumah) di dalamnya meliputi emosi atau gampang marah, pelit, khianat dan dendam serta dengki.
Meskipun dalam diri manusia selalu memiliki dua sisi sifat ini, yakni buruk dan baik. Tapi, tentunya mengharapkan untuk bisa selalu berbuat kebaikan.
Tawadhu Dalam Islam
Setiap umat muslim selalu dianjurkan untuk memiliki sifat tawadhu dalm menjalani kehidupan. Tawadhu merupakan sikap batin yang harus senantiasa mengamplikasikan secara proporsional.
Memiliki perilaku tawadhu atau rendah hati merupakan salah satu cerminan seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’alla.
Salah satu sifat berakhlak baik ialah tawadhu atau rendah hati. Mengajarkan anak dan diri sendiri untuk ber-tawadhu sama saja menanamkan pada anak agar selalu berakhlak mulia. Adapun nama lain dari tawadhu ialah sikap rendah hati, namun bukan berarti rendah diri.
Tawadhu dapat mengartikan sebagai sebuah tindakan yang percaya diri, optimis, berani, serta tidak merasa diri kita lebih baik dari orang lain sekalipun memiliki banyak kelebihan.
Menjalankan perilaku ini secara lahir batin, akan diangkat drajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’alla, pasalnya, sikap tawadhu juga menjadi salah satu bukti keimanan yang ditujukkan kepada-Nya.
Pengertian Sikap Tawadhu Menurut Berbagai Pendapat
Menurut buku berjudul Akidah Akhlak Kelas VIII (Kemenag, 2020) pengertian tawadhu ialah sikap dan perbuatan manusia yang mencerminkan kerendahan hati, tidak sombong, maupun tinggi hati juga tidak mudah tersinggung.
Hal ini sebagaimana yang di terangkan Dalam Al-Qur’an, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqan:63)
Pengertian Tawadhu Secara Etimologi dan Istilah
Pengertian tawadhu secara etimologi ialah kata tawadhu berasal dari kata wadh’a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata “ittadha’a” dengan arti merendahkan diri.
Sedangkan secara istilah, tawadhu adalah menampakan kerendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Bahkan, ada yang mengartikan tawadhu sebagai tindakan berupa mengagungkan orang karena keutamaannya, menerima kebenaran dan seterusnya.
Pengertian Tawadhu Menurut Para Ahli
Para ahli di bidang agama dan tafsir memiliki makna tersendiri mengenai pengertian tawadhu. Berikut ini pengertian tawadhu menurut para ahli.
Tawadhu Menurut Al-Ghozali
Menurut Al-Ghozali tawadhu adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita.
Tawadhu Menurut Ahmad Athoilah
Ahmad Athoilah hakikat berkata, tawadhu adalah sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.
Tawadhu Menurut WJS Poerwadarminta
Manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, angkuh, congkak, besar kepala, atau kata-kata lain yang sepadan dengan tawadhu’.
Keempat Tawadhu Menurut Yunahar Ilyas
Menurut Yuhanar Tawadhu artinya rendah hati, tidak sombong, lawan dari kata sombong atau takabur. Dengan kata lain, ini adalah perilaku yang selalu menghargai keberadaan orang lain,
perilaku yang suka memuliakan orang lain, perilaku yang selalu suka mendahulukan kepentingan orang lain, perilaku yang selalu suka menghargai pendapat orang lain.
Tawadhu Menurut Al-Huft
Menumbuhkan rasa persamaan, tanpa saling merendahkan melainkan menghormati dan toleransi, merasa senasib, suka akan keadilan, saling menyayangi, dan semua ini dapat timbul dengan rasa rendah diri, adalah wujuh dari sifat tawadhu.
Dari kelima penjelasan di atas dapat diartikan bahwa tawadhu adalah sikap rendah hati, lawan dari sombong atau takabur.
Sekalipun dalam prakteknya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya di hadapan orang lain, tapi sikap tersebut bukan lahir dari rasa tidak percaya diri.
Ciri-Ciri Orang Yang Bersikap Tawadhu
Melansir dari NU Online, ada sejumlah ciri yang menunjukkan seseorang bersikap tawadhu, yakni:
Pertama Tidak Berambisi Menjadi Populer
Tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal, melakukan untuk menghindari sikap sombong atau menonjolkan diri hanya demi mencari popularitas.
Atau dalam arti lain, orang yang tawadhu adalah orang yang ikhlas bekerja tanpa pamrih mendapatkan kemasyhuran pada tengah-tengah masyarakat, apalagi mencari pujian.
Kedua Menjunjung Tinggi Kebenaran
Mereka yang ber-tawadhu akan menjunjung tinggi kebenaran tanpa memandang hal-hal duniawi. Misalnya, status sosial dari orang yang menyatakan kebenaran dan kebohongan.
Hal ini sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi: “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla.
Artinya: Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya. Sehingga dapat diartikan bahwa orang yang tawadhu adalah orang yang sportif dan jujur.
Ketiga Tidak Segan Bergaul dengan Fakir Miskin
Seseorang yang melaksanakan sifat tawadhu, ia tidak akan segan bergaul dengan fakir miskin dan bahkan tulus mencintai dan melindunginya.
“Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i…. yuhibbul fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum.”
Artinya; Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu. Beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.
Keempat Suka Membantu Orang Lain
Ciri orang yang ber-tawadhu lainnya ialah suka membantu orang lain yang sedang kesulitan. Selain itu, mereka juga tidak merasa tinggi hati atau rendah diri ketika dimintai bantuan oleh orang fakir miskin maupun orang yang memiliki pangkat dan jabatan.
Kelima Mengucapkan Terima Kasih dan Maaf
Orang yang ber-tawadhu tidak segan mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantunya dan tanpa memandang status sosial orang tersebut.
Ia juga tak sungkan mengucapkan maaf apabila melakukan kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja sehingga melukai perasaan orang lain.
Manfaat Bersikap Tawadhu
Sikap tawadhu adalah sikap yang baik, sudah barang tentu mempunyai dampak dan manfaat yang baik bagi seseorang yang mengamalkannya, berikut manfaat bersikap yang baik,
1. Menghindarkan dari Sikap Takabur
Sebagaimana sebuah hadits yang riwayat imam Al-Kharaithi, imam Al-Hasan bin Sufyan, Ibnu La’al, dan imam Ad-Dailami dari sahabat Anas bin Malik r.a, berikut ini:
“Tidak ada manusia kecuali di kepalanya ada dua rantai, rantai di langit ke tujuh dan rantai di bumi ke tujuh, jika ia tawadhu.
Maka Allah akan mengangkatnya dengan rantai ke langit ke tujuh, dan jika ia sombong maka Allah akan merendahkannya dengan rantai ke bumi ke tujuh.”
Takabur atau menyombongkan diri merupakan salah satu sifat yang paling benci oleh Allah, oleh karena itu, salah satu manfaat bersikap tawadhu adalah menghindarkan diri dari sikap takabur.
2. Mengangkat Derajat
Tawadhu merupakan akhlak terpuji yang sangat cintai oleh Allah. Selain itu, setiap muslim yang memiliki sikap tawadhu maka Allah Ta’alla akan mengangkat derajatnya.
Sedangkan, orang yang mempunyai sifat sombong Allah akan menghinakannya. Sebagaimana sebuah hadits yang riwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini, yang artinya:
“Tidaklah seorang bertawadhu yang ditunjukkan semata-mata karena Allah Ta’alla, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya.” (HR Imam Muslim)
Penutup
Sebagai umat islam yang menenbarkan kebaikan atau membawa rahmat bagi semesta alam, hendaknya bisa mempraktekan sikap tawadhu, karena begitu pentingnya manfaat.
“Wallahu A’lam”