Nabi Ibrahim, 10 Teladan Baik Dalam Membina Keluarga
Tak Berkategori

Nabi Ibrahim, 10 Teladan Baik Dalam Membina Keluarga

 

Nabi Ibrahim (bahasa Arab: إِبْرَاهِيْم, translit. Ibrahim‎) adalah Nabi Allah yang banyak disebut dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim menjadi sosok yang dihormati dan menjadi sosok teladan dalam agama Islam.

Islam memandang Ibrahim sebagai salah satu nabi dan rasul yang termasuk dalam kelompok ulul azmi.

Bersama putranya, Ismail, Ibrahim terkenal sebagai peninggi pondasi Ka’bah yang kemudian menjadi kiblat umat Muslim seluruh dunia.

Hari raya Idul Adha juga menjadi pengingat akan peristiwa penyerahan sepenuhnya Ibrahim atas perintah Allah. Dia juga terkenal dengan gelarnya, khalilullah (kesayangan Allah).

Nabi Ibrahim Banyak Sebutkan Dalam Al-Quran

Dalam Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Islam yang bawa oleh Nabi Muhammad merupakan kesinambungan dari ajaran Ibrahim.

Nabi Ibrahim sebutkan 69 kali dalam Al-Qur’an, sedangkan kisahnya tertuang dalam beberapa surah dalam Al-Qur’an, yakni Al-Baqarah (02): 258, 260, Al-An’am (06): 75-83, Ibrahim (14): 35-41, Maryam (19): 41-48, Al-Anbiya’ (21): 51-70, Asy-Syu’ara’ (26): 69-83, Al-Ankabut (29): 16-27, dan Ash-Shaffat (37): 83-98.

Beliau (Ibrahim) juga merupakan salah satu tokoh yang namanya jadikan nama surah dalam Al-Qur’an, yakni pada surah keempat belas.

Sebagaimana para rasul lain dalam Al-Qur’an, kisah Ibrahim juga sangat menekankan pesan akan keesaan Allah, tercermin dari dialognya pada penguasa dan kaumnya.

Dari sisi lain, Tanakh dan Alkitab lebih menekankan pada rincian kronologis cerita. Perjanjian Allah dengan Ibrahim terkait bangsa-bangsa dan tanah terjanji juga menjadi titik pusat perhatian umat Yahudi.

Peran Nabi Ibrahim sebagai rasul yang mendakwahkan keesaan Allah tidak begitu terlihat dalam Alkitab dan Tanakh bila dibandingkan dalam Al-Qur’an.

Nabi Ibrahim ‘Alahissalam Beserta Istri Dan Anaknya Contoh Yang Baik Bagi Manusia.

Sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita meneladani kesuksesan beliau dalam menerapkan konsep pendidikan Ilahiyah di tengah keluarga, sehingga lahir sosok-sosok pribadi yang agung dan mengagumkan.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sosok seorang ayah yang sarat dengan kedalaman hikmah dan keluhuran akhlaq yang mulia. Konsep yang Nabi Ibrahim terapkan adalah sebagai berikut:

Mengutamakan Istri Yang Shalihah

Hajar adalah hamba yang beriman, taat, berhati mulia, dan berakhlak sangat terpuji. Nabi Ibrahim termasuk orang yang mengedepankan istri karena keimanan dan kemuliaan akhlaknya meskipun hanya kalangan biasa.

Memilih istri yang shalihah merupakan prasyarat untuk mendapatkan anak yang shalih. Sebab, istri akan menjadi madrasah pertama (al-ummu madrasatul ula) bagi anak-anaknya.

Tanpa keshalihan seorang istri akan sulit mendidik anak untuk tunduk dan taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itulah, kunci pertama adalah memilih istri yang paling baik agamanya dan akhlaqnya.

Nabi Ibrahim Sangat Peduli Kepada Generasi Penerus Yang Shalih

Nabi yang sering bermunajat kepada Allah, agar dikaruniai anak yang shalih dengan do’anya:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabb, berikanlah keturunan padaku dari orang-orang yang shalih.” (QS. Ash-Shafat [37]: 100).

Untuk memiliki anak yang shalih tidak dapat dengan mendadak, akan tetapi dengan proses mendidik, dan kepasrahan jiwa yang totalitas hanya kepada Allah memohon pertolongan-Nya.

Maka dari itu hendak-Nya kita selalu mohon kepada Allah dengan tetap berupaya memenuhi kewajiban kita sebagai hamba-Nya.

Nabi Ibrahim Menjadi Teladan Bagi Anak-Anak Dan Keluarganya.

Kunci sukses Nabi Ibrahim adalah metode keteladanan. Dalam Al-Qur’an terdapat dua ayat dalam satu surat yang menjelaskan bahwa Ibrahim adalah uswatun hasanah (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4 dan 6).

Sedangkan seorang anak cenderung meniru atau imitatif pada orang sekitarnya, terutama pada orang tuanya.

Nabi Ibrahim Memilih Lingkungan Yang Baik Untuk Perkembangan Mentalitas Anak

Setelah Hajar melahirkan Ismail, Ibrahim pun mengantarkan mereka ke suatu tempat yang lengang tak berpenghuni dan tandus, bernama Makkah.

Kemudian Ibrahim bermunajat kepada Allah, agar tempat itu diberkahi dan baik untuk perkembangan aqidah dan mentalitas anaknya (QS Ibrahim [14]: 37).

Sebagai orang tua mesti mengawasi pergaulan anak-anaknya, memilihkan sekolah yang memperhatikan pembinaan keislaman dan akhlak mulia,

Termasuk memilih lingkungan, tempat tinggal yang kondusif dan mendukung perkembangan mentalitas anak ke arah yang mulia.

Nabi Ibrahim Mengajak Musyawarah Kepada Anak.

Sikap terbuka dan komunikatifnya Nabi Ibrahim terlihat dalam kisah penyembelihan putranya. Saat Ibrahim mendapat perintah menyembelih anaknya, ia panggil Ismail dengan kalimat “Ya bunayya” atau “Wahai anakku sayang”.

panggilan penuh kasih sayang, komunikatif  serta harmonis antara seorang ayah dan anak. Ibrahim meminta pendapat Ismail atas perintah itu (QS As-Shaffat [37]:102).

Suatu perintah yang wajib dilaksanakan, tetapi tetap dikomunikasikan secara baik. Ini menunjukkan sikap orang tua yang tidak otoriter, tidak memaksakan kehendak dan tetap menjunjung tinggi musyawarah.

Nabi Ibrahim Mencintai Anak Karena Allah.

Sebagai manusia biasa, Ibrahim sangat mencintai putranya. Namun, Allah menguji cinta Ibrahim antara kepada Allah dan kepada Ismail. Ternyata demi cintanya kepada Allah, Ibrahim rela mengorbankan Ismail.

Kisah ini mengajarkan kita agar mencintai anak semata-mata karena Allah. Jangan sampai cinta kita padanya melebihi cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan Jihad di jalan Allah. (QS At-Taubah [9]: 24).

Kewajiban orang tua yang paling esensial adalah mendidik ketauhidan anak, lalu menjaga mereka dari siksa neraka. (QS At-Tahrim [66]: 6).

Melibatkan Anak Membangun Baitullah, Beribadah Bersama Anak, Dan Melibatkannya Menegakkan Agama Allah.

Ibnu Katsir dalam kitab Qishashul Anbiya’ menjelaskan, bahwa Ismail turut mengumpulkan batu dan mengulurkannya kepada Ibrahim, lalu Ibrahim membangun Ka’bah yang sebelumnya telah rusak.

Saat membangun baitullah itu bersama anaknya, Ibrahim berdo’a agar mereka menjadi hamba yang taat dan negeri itu diberkahi (QS. Al-Baqarah [2]: 126-129).

Nabi Ibrahim Berharap Dan Mempersiapkan Keturunannya Menjadi Imaam.

Allah mengisyaratkan bahwa yang dijadikan Imaam bukanlah orang-orang yang zhalim (QS Al-Baqarah [2]: 124).

Ibrahim mendidik anaknya untuk berlaku adil, tidak bertindak zhalim, baik zhalim secara aqidah, yaitu syirik (QS Luqman [31]: 13), maupun zhalim terhadap diri sendiri karena melanggar perintah Allah, atau melaksanakan larangan Allah (QS. Al-A’raf [7]: 23).

Sebagai orang tua, seharusnya kita lebih mengkhawatirkan masa depan aqidah anak-anak kita daripada sekedar mengkhawatirkan karier dunia semata. (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Teladan Selanjutnya Adalah Hajar, Sebagai Isteri Nabi Ibrahim Allaihisallam, Sifat-sifat mulia Hajar, antara lain:

Sifat Istri Nabi Ibrahim, Senantiasa Ridla Dan Husnuzhan Kepada Allah

Sikap inilah yang menjadikan mentalnya siap menerima berbagai keadaan, dari yang paling sulit sekalipun.

Ia tidak pernah berontak dan mengeluh jika Allah telah memutuskan sesuatu baginya. Masa-masa sulit di Makkah dilaluinya hanya berdua dengan Ismail.

Di tengah padang pasir nan tandus dan tak ada kehidupan. Hatinya tetap yakin, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan pernah membiarkannya.

Sifat Istri Nabi Ibrahim Rela Berkorban Untuk Allah

Profil Hajar sebagai mujahidah terpancar saat dirinya berkorban untuk mengukir peradaban negeri Makkah.

Ia rela berjuang dan berkorban demi anak yang cintainya. Ia rela berkorban saat anak satu-satunya untuk qurbankan kepada Allah yang harus lebih cintainya. Allah berfirman:

…وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…

“Dan orang-orang beriman itu sangat cintanya kepada Allah…” (QS. AL-Baqarah: 165)

Seorang mukminah shalihah seperti Hajar dapat merasakan kelezatan iman dalam hatinya, karena telah memprioritaskan cintanya kepada Allah atas segala cinta.

Sifat Istri Nabi Ibrahim, Qana’ah dan Tawakkal

Hajar adalah sosok wanita yang memiliki kepribadian luar biasa. Sikap qana’ah yakni menerima apa adanya, tidak menuntut diluar kemampuan suami.

Dan selalu ridla atas pembagian Allah kepada-Nya, menjadikan ia sebagai wanita mulia yang mengalirkan kepribadian agung kepada putranya ismail.

Bayangkan, perjalanan Palestina ke Makkah lebih dari 1200 km, menempuhnya dengan jalan kaki. Sesampainya  Makkah ia harus merawat dan mendidik anaknya dengan susah payah.

Dengan modal husnuzhan dan tawakkal yang totalitas hanya kepada Allah, akhirnya Allah mencukupkan kehidupannya, dan kini buahnya, Makkah menjadi negeri yang kaya raya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِين

“Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tawakkal.

…وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ….

“Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Sifat Istri Nabi Ibrahim Sabar dan Syukur

Dua sifat utama seorang mukmin adalah sabar dan syukur miliki Hajar, ia sabar menjalani hidup dan kehidupannya, sabar tinggalkan suami karena melaksanakan perintah Allah,

Sabar membesarkan dan mendidik Ismail seorang diri, sabar dengan segala kekurangan dan keterbatasan.

Dengan sifat syukurnya, Allah senantiasa memberikan solusi dari kesulitannya. Kafilah suku Jurhum menetap di Makkah karena kedermawanan Hajar yang mempersilahkan mereka tinggal di sekitar sumur zam-zam. Oleh karena itulah, hidupnya menjadi mulia dan selalu berkahi Allah ‘Azza wa Jalla.

 

 

SHALAT BERJAMAAH DAN KEUTAMAANNYA